Penangkapan ikan secara ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU Fishing) semakin menarik perhatian masyarakat internasional dan negara-negara yang memiliki pantai di Seluruh dunia untuk memperkuat upaya dalam penanganan aktivitas IUU fishing sebagai sebuah masalah prioritas karena dampaknya sangat buruk terhadap pangan, ekonomi, lingkungan, dan keamanan sosial. 

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia kasus IUU fishing merupakan salah satu permasalahan utama bagi Indonesia dan menjadi perhatian serius kementerian kelautan dan perikanan saat Susi Pudjiastuti menduduki jabatan menteri kelautan dan perikanan periode 2014 hingga 2019. 

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS Johan Rosihan mengungkapkan bahwa menurut ASEAN news tahun 2017 Perkiraan kerugian total tahunan Indonesia dari aktivitas IUU Fishing mencapai USD 20 M hal ini termasuk risiko kerusakan permanen pada ekosistem terumbu karang kemungkinan mencapai 65% dari total luasan karang.

Anggota legislatif asal NTB ini menambahkan bahwa pemberantasan IUU fishing juga harus dilihat dalam sebuah perspektif yang jauh lebih luas, bukan saja terkait dengan pelanggaran hak kedaulatan atau sekadar masalah manajemen perikanan semata, namun hal ini sejalan dengan kejahatan perikanan bahkan masuk dalam kategori kejahatan transnasional terorganisasi (transnational organized crime), sehingga pemberantasannya juga harus dipandang dari berbagai macam perspektif.

Pernyataan ini bukannya tanpa alasan, jika melihat data yang dipublikasikan oleh satgas 115 kejahatan IUU fishing itu dapat dibarengi atau ditumpangi kejahatan lain seperti perdagangan narkoba, human trafficking, perdagangan senjata bahkan penyelundupan tumbuhan dan satwa liar. Pada 7 februari tahun 2018 pemerintah telah berhasil menggagalkan penyelundupan 1,37 Ton narkotika di perairan batam, riau yang menggunakan kapal perikanan Sunrise Glory berbendera Singapura.

Kemudian kejadian yang tidak kalah menyedihkan adalah terbongkarnya kasus perbudakan nelayan (Slavery) di kawasan benjina laut aru dan ambon pada tahun 2015, ini semakin menguatkan bahwa kejahatan IUU Fishing tidak boleh lagi dianggap sebagai kejahatan perikanan biasa. Oleh sebab itu saya meminta kepada pemerintah untuk tegas terhadap pemberantasan aktivitas IUU Fishing di seluruh wilayah Indonesia, Tegas Johan.

Selanjutnya Johan juga merinci lebih detail bahwa Untuk mengatasi masalah tersebut memang tidak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada pemerintah atau instansi tertentu saja, namun merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, oleh sebab itu saya menyarankan kepada pemerintah untuk membuat sebuah sistem perlindungan utamanya di wilayah terpencil, terluar dan terdepan di seluruh wilayah Indonesia dengan mengembangkan ekonomi di daerah tersebut. 

Sebagai contoh di Natuna, keberadaan Sentra Kelautan dan Perikanan terpadu (SKPT) di Selat Lampa harus terus dioptimalkan karena selama ini kapal-kapal nelayan penangkap ikan masih sedikit yang mendaratkan ikannya di SKPT tersebut padahal dari segi fasilitas SKPT natuna sudah sangat memadai. 

Selanjutnya pemerintah melalui KKP perlu memudahkan perizinan yang terkait dengan penangkapan ikan pada Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), menurut Johan terdapat surat edaran dari dirjen No D1234/DJPT/PI470D4/31/12/2015 tentang Pembatasan Ukuran GT Kapal Perikanan pada Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP)/SIPI/SIKPI yang dianggap telah membatasi aktivitas kapal nelayan tanah air. 

Akibatnya ribuan kapal nelayan dengan bobot diatas 150 GT, tidak boleh beroperasi. Kemudian pemerintah harus terus Terus mengkampanyekan kepada dunia Internasional bahwa penindakan kapal ikan illegal di natuna baik itu penenggelaman atau tindakan lainnya merupakan upaya pemerintah dalam memberantas tindak pidana TOC (Transnational Organized Crime) bukan hanya terbatas pada pelanggaran hak kedaulatan semata.

Terakhir Pemerintah harus bergerak cepat memaksimalkan posisi BAKAMLA sesuai amanat UU 32 2014 tentang Kelautan, sebagai respon berakhirnya mandate satgas 155 yang selama ini melakukan pengawasan di wilayah laut Indonesia.